VIVAnews - Kebutuhan energi nasional masih ditopang minyak bumi sekitar 51,66 persen, gas alam 28,57 persen, dan batubara 15,34 persen. Lama-kelamaan persediaan ini akan terkuras. Cadangan minyak bumi diperkirakan habis sekitar 12 tahun mendatang.
Solusi pengalihan dari BBM ke BBG pun bukan langkah strategis. Gas hanya tersisa untuk dimanfaatkan hingga 30 tahun lagi. Sumber lain, batubara masih dapat bertahan hingga 70 tahun.
Menurut peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia-LIPI), Dr. Agus Haryono, pada 2025 pemenuhan 17 persen energi Indonesia diharapkan berasal dari energi terbarukan.
Pemerintah mendorong penelitian mengenai sumber energi alternatif BBM. Kebijakan Peraturan Presiden (Perpres) No. 5 Tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional menjadi penopang pengembangan bioetanol lignoselulosa sebagai sumber energi.
Studi menemukan bioetanol lignoselulosa dapat dimanfaatkan sebagai alternatif BBM. Bahan bakar ramah lingkungan ini berasal dari Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) atau Oil Palm Empty Fruit Bunch dan pelepah kelapa sawit.
LIPI bersama Korea International Cooperation Agency (KOICA) dengan dukungan Korea Institute of Science and Technology (KIST) dan Changhae Energeering, Co. Ltd. mencari upaya memanfaatkan potensi limbah sawit (TKKS). Kerjasama penelitian ini membangun pabrik ujicoba (pilot plant) produksi bioetanol berbasis lignoselulosa di P2 Kimia LIPI, Kawasan Puspiptek Serpong Tangerang Selatan-Banten.
Pilot plant ini mampu memproduksi etanol dengan kemurnian 99,5 % sebanyak 10 liter per hari. Menteri Riset dan Teknologi RI, Kepala LIPI, Duta Besar Republik Korea untuk RI, President KIST, dan President KOICA akan meresmikan pabrik percobaan etanol pada hari ini.
Facebook
Twitter
Google+
